PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF MELALUI KEMANDIRIAN DI DESADLISEN KECAMATAN LIMPUNG



KARYA ILMIAH
PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF MELALUI KEMANDIRIAN DI DESADLISEN KECAMATAN LIMPUNG


Dibuatuntuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Laporan Hasil
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan ke-XXXVII




 














Oleh :
KHOIRUNIKROM
2021111 072

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI(STAIN) PEKALONGAN
2014





















BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masyarakat desa merupakan kelompok kecil dalam suatu kehidupan di suatu daerah, dimana kebanyakan belum memiliki akses informasi dan teknologi seperti halnya masyarakat yang tinggal di perkotaan. Dalam pembentukan pola pikir juga masih belum terlalu memiliki pola berpikir yang kompleks dibandingkan dengan masyarakat di daerah perkotaan. Seperti halnya pada setiap masyarakat desa pada umumnya, mereka hanya berpikiran sederhana, tidak memikirkan suatu hal besar yang mampu dilakukan, kebanyakan dari masyarakat hanya memikirkan “apa yang bisa dimakan/ konsumsi esok hari?”.
Dalam pengelolaan ekonomi setiap keluarga ataupun desa itu sendiripun masih belum ada suatu keinginan dan kemauan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Hal itu banyak disebabkan karena mereka seringkali berada pada posisi nyaman, dimana semua yang mereka butuhkan yang berkaitan dengan apa yang mereka butuhkan untuk konsumsi telah tersedia disekitar mereka. Namun berbeda dengan zaman sekarang dimana pertumbuhan informasi dan teknologi sekarang sudah masuk bahkan sampai kedesa-desa, masyarakat mulai berpikir kearah yang lebih baik.
Menunjukkan kemauan mereka untuk memperbaiki taraf hidupnya, seperti lebih memperhatikan pendidikan, lingkungan, sosial dan kebutuhan yang bersifat sekunder bahkan tersier. Sebagai contoh, banyak masyarakat desa telah mengenal adanya kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi, transportasi dan lain sebagainya.
Di desa Dlisen Kecamatan Limpung Kabupaten Batang contohnya, masyarakat di desa tersebut sudah banyak yang berpikir akan kebutuhan diluar kebutuhan pokok mereka. Dengan faktor pendukungnya adalah banyaknya masyarakat yang melakukan urbanisasi, namun faktor ini pula yang menyebabkan aktivitas dari masyarakatnya menjadi kurang intensitasnya dalam beberapa tingkat golongan, bahkan dapat mengakibatkan kerenggangan hubungan antar warga menjadi semakin renggang, karena dalam pikiran mereka hanya ada kata bekerja. Padahal dalam suasana desa dikenal karena kekentalan hubungan kekerabatannya. Dengan urbanisasi itu pula dapat mengakibatkan luapan penduduk pada suatu daerah atau kota tertentu.
Pemerintah sejak tahun 2011 telah menggalakkan adanya program pengembangan ekonomi masyarakat salah satunya dengan pengembangan dan penumbuhan wirausaha baru, program pengembangan ekonomi kreatif di daerah, dan masih banyak yang lainnya. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa pemerintah menginginkan bahwa setiap daerah mampu untuk mengelola daerahnya sendiri sesuai dengan apa yang disebut otonomi daerah, serta mampu melihat potensi daerah itu sendiri, sehingga potensi dari daerah itu bisa dikembangkan sebagai wadah bagi warganya dalam mencari dan membuka lahan pekerjaan bagi masyarakatnya.
Di desa Dlisen inipula dapat kita lihat sebagai daerah yang memiliki potensi dalam bidang ekonomi kreatif, pertanian dan perkebunan, mengapa demikian? Karena banyak lahan-lahan yang ada dan bisa dimanfaatkan warganya untuk bercocok tanam, ,serta banyak warga yang bekerja sebagai buruh emping, dan pada kecamatannya (Kecamatan Limpung) dikenal sebagai kota emping, namun dengan kondisi sekarang hal tersebut semakin sulit untuk ditumbuhkan kembali. Sehingga mengapa tidak jika penumbuhan kembali “Kota Emping” dapat dilakukan dari desa-desa yang ada.

B. RumusanMasalah
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan pada latar belakang di atas adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimana potensi daerah mampu memberikan warga sebuah lapangan pekerjaan?
2.      Bagaimana mengembangkan potensi sebagai home industri yang mampu dimiliki dan membantu perekonomian setiap desa?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian karya ilmiah ini bertujuan:
1.      Memberikan informasi tentang pengembangan produk lokal sebagai potensi daerah yang bermanfaat bagi setiap warga desa Dlisen.
2.      Menumbuhkembangkan sikap mandiri secara ekonomi bagi pembaca dan masyarakat desa Dlisen pada khususnya.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Masyarakat Desa dan Urbanisasi
Urbanisasi merupakan suatu perpindahan penduduk dari desa ke kota, biasanya dilakukan masyarakat dari desa-desa kecil menuju kota-kota besar, seperti kota dengan pusat pemerintahan yaitu kota Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan lain-lain.[1] Urbanisasi ini kerap kali dilakukan masyarakat desa karena beberapa sebab atau faktor.Penyebab urbanisasiatau perpindahan penduduk perdesaan ke perkotaan terjadi karena adanya daya tarik (pullfactors) dari perkotaan dan daya dorong (pushfactors) dari perdesaan. Faktor Pendorong dari Desa:[2]
Faktor pendorong dan desa yang menyebabkan terjadinya urbanisasi sebagai berikut:
1.  Terbatasnya kesempatan kerja atau lapangan kerja di desa.
2.  Tanah pertanian di desa banyak yang sudah tidak subur atau mengalami kekeringan.
3.  Kehidupan pedesaan lebih monoton (tetap/tidak berubah) daripada perkotaan.
4.  Fasilitas kehidupan kurang tersedia dan tidak memadai.
5.  Upah kerja di desa rendah.
6.  Timbulnya bencana desa, seperti banjir, gempa bumi, kemarau panjang, dan wabah penyakit.
Faktor Penarik dari Kota :
1.       Faktor penarik dan kota yang menyebabkan terjadinya urbanisasi sebagai berikut.
2.       Kesempatan kerja lebih banyak dibandingkan dengan di desa.
3.       Upah kerja tinggi.
4.       Tersedia beragam fasilitas kehidupan, seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi, dan pusat-pusat perbelanjaan.
5.       Kota sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. 
Terjadinya urbanisasi membawa dampak positif dan negatif, baik bagi desa yang ditinggalkan, maupun bagi kota yang dihuni. Dampak positif urbanisasi bagi desa (daerah asal) sebagai berikut.
1.       Meningkatnya kesejahteraan penduduk melalui kiriman uang dan hasil pekerjaan di kota.
2.       Mendorong pembangunan desa karena penduduk telah mengetahui kemajuan dikota.
3.       Bagi desa yang padat penduduknya, urbanisasi dapat mengurangi jumlah penduduk.
4.       Mengurangi jumlah pengangguran di pedesaan.
Adapun dampak negatif urbanisasi bagi desa sebagai berikut:
1.       Desa kekurangan tenaga kerja untuk mengolah pertanian.
2.       Perilaku yang tidak sesuai dengan norma setempat sering ditularkan dan kehidupan kota.
3.       Desa banyak kehilangan penduduk yang berkualitas.
Dampak Urbanisasi bagi Kota terdiri dari dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif urbanisasi bagi kota sebagai berikut.
1.       Kota dapat memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja.
2.       Semakin banyaknya sumber daya manusia yang berkualitas.
Dampak negatif urbanisasi bagi kota sebagai berikut:[3]
1.       Timbulnya pengangguran.
2.       Munculnya tunawisma dan gubuk-gubuk liar di tengah-tengah kota.
3.       Meningkatnya kemacetan lalu lintas.
4.       Meningkatnya kejahatan, pelacuran, perjudian, dan bentuk masalah sosial lainnya.
 Namun, opini dari masyarakat pedesaan tentang urbanisasi dari dahulu bahwa dengan urbanisasi mereka dapat memperoleh penghidupan secara ekonomi menjadi lebih layak jika dibandingkan dengan bekerja di desa mereka sendiri.
Hal diatas menunjukkan kurangnya kesadaran masyarakat desa tentang pembangunan desa itu sendiri, mengembangkan keaslian produk atau kearifan desa itu sendiri di mata masyarakat secara luas. Padahal jika kita hitung menggunakan perhitungan upah kerja dengan biaya hidup, maka akan kita peroleh hasil yang sama. Dikarenakan perbandingan lurus antara upah kerja dengan biaya itu sendiri. Dicontohkan jika biaya hidup di desa selama 1 bulan hanya sebesar 750.000 maka wajar jika upah kerja hanya berkisar lebih sedikit dari itu dengan nominal diatasnya, namun jika upah di kota besar misalkan 2.000.000/ bulan, biaya hidup yang dikeluarkan akan lebih besar pula jika dibandingkan dengan di desa.
Hal  tersebut memicu adanya kesenjangan dan pola hidup masyarakat apabila mereka kembali ke desanya, bahkan tidak kalah menariknya, terkadang mereka ikut membawa budaya negatif dari kota ke pedesaan. Lain halnya jika masyarakat yang ada di desa memiliki penghasilan layaknya masyarakat yang ada di kota. Bagaimana hal itu bisa dilakukan? Pada saat ini sudah banyak sekali contoh yang bisa diambil, misalkan suatu daerah mengembangkan suatu produk atau industri lokalnya hingga dikenal masyarakat luas, maka daerah tersebut mampu meningkatkan jumlah lapangan kerja baru, menaikkan UMR (Upah Minimum Regional), memandirikan masyarakatnya sehingga tidak bergantung pada pekerjaan sebagai buruh orang lain di kota.
Dengan hal tersebut masyarakat mampu memperoleh penghidupan yang layak bahkan mereka mampu berkembang melebihi jika mereka melakukan suatu urbanisasi, walaupun urbanisasi itu memang diperlukan untuk mengenal dunia diluar masyarakat mereka, namun tidak untuk menetap secara permanen, melainkan mencari peluang dari kearifan daerahnya sendiri dan memperkenalkannya ke masyarakat luas dengan urbanisasi sementara.





B.  Mengembangkan Kearifan Lokal
Kearifan lokal merupakan suatu hal yang sangat berharga bagi suatu daerah, dimana melalu kearifan lokal masyarakat dapat mengembangkan corak khas dari daerahnya itu sendiri. Unsurbudaya daerah potensial sebagai daerah yang menjunjung kearifan lokal karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Ciri-cirinya adalah:
- Mampu bertahan terhadap budaya luar
- Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar
- Mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya
asli
- Mempunyai kemampuan mengendalikan
- Mampu memberi arah path perkembangan budaya
Banyak sekali kearifan lokal yang ada pada setiap daerah. Di Desa Dlisen Kecamatan Limpung Kabupaten Batang, dimana banyak penduduk desanya melakukan urbanisasi ke kota-kota besar, terdapat satu kearifan lokal yang tersimpan dalam desa ini.[4]
Tak hanya itu, kecamatannya dikenal sebagai salah satu penghasil emping mlinjo di Jawa Tengah. Hal tersebut saat ini lambat laun mulai menurun dikarenakan banyak penduduk desa yang lebih memilih untuk melakukan urbanisasi, dikarenakan pemasaran yang ada masih belum banyak dikenal dan masih banyak menggunakan tengkulak sebagai konsumen dari penduduk desanya, selain itu olahan yang ada hanya beberapa saja, belum ada pengembangan olahan makanan dari emping hasil bumi itu desa Dlisen dan kecamatan Limpung itu sendiri.
Mengembangkan kearifan lokal di daerah dapat dikatakan memiliki banyak sekali tantangan, apalagi pada kecamatan Limpung itu sendiri saat ini banyak penduduknya yang beralih profesi menjadi pekerja ataupun buruh ke kota. Terkuranginya lahan tanam bagi pohon mlinjo itu sendiri, dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang pemberdayaan desa atau daerahnya sendiri.
Sebagai contoh kearifan lokal yang telah dikembangkan pada satu daerah adalah di Pekalongan yang dikenal sebagai Kota Batik, bisa dilihat bahwa banyak sekali usaha yang dilakukan oleh pemerintah setempat guna mengenalkan batik kepada masyarakat umum. Jika hal tersebut dilakukan  oleh masyarakat kecamatan Limpung yang notabene dulu dikenal sebagai Kota Emping kemungkinan besarpun akan sama hasilnya dengan apa yang diraih oleh kota lainnuya.
Emping atau tanaman Mlinjosendiri merupakan salah satu tanaman yang hidup di daerah yang tidak membutuhkan air yang banyak, sangat cocok dengan kondisi tanah di desa Dlisen ini. Dengan beberapa penyediaan lahan yang cukup bagi bibit tanaman Mlinjo itu sendiri dirasa akan cukup untuk pembudidayaan tanaman mlinjo. Berikut adalah beberapa cara untuk membudidayakan tanaman mlinjo.
Dalam pengolahannya sebagai makanan, tanaman mlinjo dapat diolah menjadi beberapa makanan, seperti dapat dijadikan lauk dan makanan ringan, khasiatnyapun berguna bagi  tubuh manusia. Pengolahan tanaman atau biji mlinjo itu sendiri dapat bervariasi, tinggal bagaimana kreativitas dari masyarakat melakukannya.
Disini masyarakat desa Dlisen masih banyak membutuhkan beberapa informasi tentang pemasaran yang harus dilakukan agar produk kearifan lokal atau potensi daerah menjadi dikenal oleh masyarakat umum. Cara pemasaran suatu produk dapat berupa:[5]
1.    Pengadaan pameran produk lokal oleh pemerintah setempat guna memperkenalkan produk asli atau kearifan lokal daerahnya,
2.    Pemasaran dengan mengikuti promosi ke daerah lain dapat pula memberikan kesempatan pada desa untuk mengikuti sebuah pameran, baik itu berupa produk industri, pertanian maupun lainnya.
3.    Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang telah ada sekarang, dalam arti saat ini masyarakat telah banyak mengenal apa yang dinamakan internet, televisi, radio dan yang lainnya, dan itu bisa dimanfaatkan untuk menjadi cara memasarkan produk dengan efisien dan efektif.
4.    Dengan pemasaran secara tradisional, pemasaran ini biasa dan sudah dilakukan masyarakat pada umumnya dengan menjual produk mereka di pasar maupun ke daerah lain secara perorangan maupun kepada pengepul.
Namun dalam hal ini perlu adanya sebuah kesabaran dalam pelaksanaannya. Karena dalam memasarkan suatu produk perlu ada waktu agar masyarakat mengenal produk yang kita tawarkan, lambat laun masyarakat luarpun akan mengenal apa yang menjadi produk unggulan desa ini.

C.  Menumbuhkan Kemandirian Ekonomi
1.  Kemandirian Ekonomi
Di desa Dlisen hampir 70 % dari lahannya berupa persawahan dan perkebunan. Sehingga desa tersebut mempunyai potensi hasil pertanian yang sangat besar. Keadaan tanah di desa Dlisen sangat cocok untuk ditanami beberapa tanaman, seperti : padi, tebu, jagung, cokelat, umbi-umbian, dan nangka. Dengan adanya seperti itu sebenarnya desa Dlisen sangat mempunyai potensi untuk wirausaha yang sangat besar.
Cara menumbuhkan kemandirian ekonomi:
a.    Mengajak warga untuk berwirausaha
b.   Mengubah pola pikir masyarakat
c.    Menciptakan pekerjaan baru sesuai dengan keadaan atau SDA di desa
d.   Memanfaatkan hasil alam yang ada dan di olah dengan sekreatif mungkin.
Dengan pola pikir masyarakat yang kreatif, dapat menumbuhkan kemandirian ekonomi tanpa ketergantungan dari pihak luar. Dapat mengurangi tingkat urbanisasi yang tinggi. Selain itu, semakin banyak wirausaha di desa dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan mampu meningkat UMR (Upah Minimum Regional). Semakin UMR meningkat perputaran ekonomi juga akan meningkat, lebih cepat dari pada yang sebelumnya. Kesejahteraan masyarakatpun akan terjamin.

2.  Ekonomi kreatif
Desa Dlisen mempunyai potensi ekonomi kreatif yang cukup banyak. Ekonomi kreatif tidak harus mengeluarkan biaya banyak, tetapi dapat diambil hasil pertanian maupun daur ulang sampah dan daur ulang kertas-kertas yang sudah tidak digunakan. Seperti contoh yaitu membuat rangkaian bunga dari kulit jagung dan ranting pohon yang sudah kering, membuat korden dengan bekas kemasan air mineral atau minuman teh, membuat enting-enting dengan emping, susu jagung, Membuat tempat pensil dengan jenggel jagung. Berikut adalah beberapa cara membuatnya :

a.       Bunga dengan daun jagung
alat dan Bahan yang digunakan dalam pembuatan bunga dari kulit jagung adalah gunting, lem, kawat, pewarna, ranting pohon. Caranya adalah yang pertama potong-potong kulit jagung sesuai dengan pola yang diinginkan. Setelah itu potongan yang sudah dibuat pola direbus dengan air mendidih kemudian diberi pewarna yang di inginkan. Setelah kulit jagung berwana, berarti kulit jagung siap ditiriskan. Setelah itu daun jagung yang sudah dibuat pola dilem dengan potongan pola yang lain sehingga menjadi bunga. Untuk menyambungkan  bunga dengan tangkainya yang terbuat dari ranting harus menggunakan kawat. Jadilah bunga Kulit jagung
b.      Enting-enting dari emping
Bahan yang digunakan untuk membuat enting-enting sangat sederhana hanya emping dan gula pasir. Caranya yang pertama goreng emping terlebih dahulu. Setelah digoreng emping tadi di remas-remas. Kemudian siapkan gula pasir di atas wajan dipaskan hingga gula mencair. Setelah mencair masukan meremukkan emping ke dalam cairan gula pasir dan di buat bulat-bulat. Jadilah enting-enting emping
c.       Susu jagung
Susu jagung sangat sederhana sekali dalam membuatnya hanya butuh beberapa jagung. Yang pertama jagung diserut kemudian di blender. Setelah di blender jagung direbus sampai mendidih setelah mendidih jagung kemudian disaring agar ampasnya itu terpisah yang diambil airnya. Air tersebut sudah menjadi susu jagung.
Dengan kemandirian akan menumbuhkan sikap kreatif masyarakat terutama dalam bidang ekonomi. Masyarakat tidak akan mengandalkan mendapat pekerjaan dari orang lain untuk menjadi buruh. Sikap kreatif akan memunculkan ide-ide yang cemerlang sehingga kemungkinan dapat menciptakan lapangan kerja baru. Dengan adanya ekonomi kreatif, dapat mengurangi tingkat urbanisasi. Walaupun ada yang urbanisasi, itu pun hanya untuk memperkenalkan produk atau mempromosikan desa yang ditinggalinya.
Diatas merupakan beberapa contoh ekonomi kreatif yang ada di kecamatan Limpung khususnya  di desa Dlisen. Namun untuk kesadaran masyarakat desa Dlisen masih kurang akan adanya potensi di desa Dlisen. Hal itu terbukti dengan banyaknya tingkat urbanisasi yang tinggi.
Dari dulu bahwa kecamatan Limpung itu sudah terkenal dengan sebutan kota Emping. Sampai ada tugu emping yang disimbolkan dengan seorang yang sedang membuat emping, tugu tersebut berada di depan kantor kecamatan. Sayangnya sekarang sudah sedikit para pengemping, hal itu dikarenakan hasil mengemping itu sangat kecil. Selain itu untuk mencari bahan dasarnya pun cukup sulit. Hal itu memicu warganya untuk berurbanisasi.[6]
Semua itu dapat diatasi apabila warganya itu mempunyai pemikiran yang kreatif, yaitu membuat emping yang berbeda dengan emping-emping yang sudah ada. Seperti emping pedas, emping manis, enting-entingempimg dan lain sebangainya.

















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Terjadinya urbanisasi membawa dampak positif dan negatif, baik bagi desa yang ditinggalkan, maupun bagi kota yang dihuni. Namun, opini dari masyarakat pedesaan tentang urbanisasi dari dahulu bahwa dengan urbanisasi mereka dapat memperoleh penghidupan secara ekonomi menjadi lebih layak jika dibandingkan dengan bekerja di desa mereka sendiri. Sehingga dapat menimbulkan kepadatan penduduk di daerah yang didatanginya,
Hal itu dapat diatasi apabila warga masyarakat mempunyai ide-ide kreatif untuk menumbuhkan potensi-potensi ekonomi yang ada di desa yang ditinggalinya. Dengan adanya ekonomi kreatif dapat mengembangkan pertumbuhan ekonomi dan dapat mencegah tingkat urbanisasi yang tinggi, selain itu juga dapat mengurangi penganngguran.

B.     Saran
Karya tulis yang saya buat jauh dari kata sempurna, o;eh karena itu saya mohon kritik dan saran demi untuk kemajuan ke depannya. Karya tulis yang sederhana ini semoga dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya. Mohon maaf apabila ada penulisan bahasa yang kurang tepat dan sulit dipahami.













DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/4145765/Pengertian_kearifan_lokal
Juwarman, Hasil wawancara warga desa Dlisen pada tanggal 20 November 2014
Materi kewirausahaan dasar, yang disampaikan di Pendidikan Dasar Perkoperasian Koperasi Mahasiswa STAIN Pekalongan Bulan September tahun 2012 di Gedung Dekopinda Kota Pekalongan
Utoyo, Bambang. 2006. Geografi: Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas XII SMA/MA Program IPS.Bandung: Setia Purna Inves.



[1]Bambang Utoyo.Geografi: Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas XII SMA/MA Program IPS. (Bandung: Setia Purna Inves. 2006) hlm. 21
[2]Bambang Utoyo. Ibid, hlm. 24
[3]Bambang Utoyo. Ibid, hlm. 28
[4] https://www.academia.edu/4145765/Pengertian_kearifan_lokal diakses pada 12 Novemvber 2014

[5] Materi kewirausahaan dasar, yang disampaikan di Pendidikan Dasar Perkoperasian Koperasi Mahasiswa STAIN Pekalongan Bulan September tahun 2012 di Gedung Dekopinda Kota Pekalongan
[6]Hasil wawancara warga desa Dlisen pada tanggal 20 November 2014 ( bapak Juwarman )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

nama-nama Teman SMK N 1 Kedungwuni